Monitoring PM-AAS, BRMP Kalteng Dorong Pengendalian Gulma dan Tata Kelola Air
KAPUAS – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Tengah terus mengawal pelaksanaan Program Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) melalui kegiatan monitoring di dua lokasi, yakni IP2MP Unit Tatas dan lahan petani di Kecamatan Tamban Catur, Kabupaten Kapuas (7/7/2026).
Monitoring dipimpin langsung oleh Kepala BRMP Kalimantan Tengah, didampingi Kepala Bagian Umum serta Penanggung Jawab Program PM-AAS. Di lokasi IP2MP Unit Tatas, rombongan didampingi Koordinator IP2MP, sedangkan di Kecamatan Tamban Catur turut didampingi Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tamban Catur, Suyandi, bersama Mantri Tani setempat.
Peninjauan dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan pertanaman sekaligus mengidentifikasi berbagai aspek teknis yang perlu mendapat perhatian agar pelaksanaan Program PM-AAS berjalan optimal.
Di IP2MP Unit Tatas, pertanaman padi telah memasuki umur sekitar 45 hari setelah tanam benih langsung. Secara umum tanaman menunjukkan perkembangan yang cukup baik, namun pada beberapa petak lahan pertumbuhan gulma mulai meningkat sehingga berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebagian areal telah dilakukan penyiangan, sementara sebagian lainnya masih memerlukan pengendalian gulma dan penyulaman pada titik-titik pertanaman yang belum tumbuh optimal.
Selain itu, kondisi lahan yang relatif kering akibat pasang air sungai yang rendah menjadi perhatian dalam monitoring tersebut. Saat peninjauan berlangsung, pengairan dilakukan dengan memompa air dari sungai untuk menjaga kebutuhan air tanaman.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Kepala BRMP Kalimantan Tengah mengarahkan agar pengelolaan air di IP2MP Unit Tatas terus dioptimalkan sehingga ketersediaan air bagi tanaman tetap terjaga selama fase pertumbuhan.
Sementara itu, di lokasi PM-AAS Kecamatan Tamban Catur, pertanaman padi yang telah memasuki umur 34 hari setelah tanam benih lgsung menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Namun, tim menemukan sebagian besar lahan masih memerlukan penyiangan gulma agar tidak menghambat pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif.
Dalam arahannya, Kepala BRMP Kalimantan Tengah menekankan pentingnya pemantauan kondisi pH tanah secara berkala setiap minggu sebagai dasar pengambilan keputusan teknis terkait pengelolaan lahan dan pemupukan, sehingga pertumbuhan tanaman dapat berlangsung lebih optimal.
Melalui monitoring rutin ini, BRMP Kalimantan Tengah berharap setiap tantangan di lapangan dapat segera diidentifikasi dan ditindaklanjuti sejak dini. Pendampingan yang berkelanjutan diharapkan mampu meningkatkan keberhasilan implementasi Program PM-AAS sebagai salah satu model penerapan modernisasi pertanian yang adaptif, efisien, dan produktif di Kalimantan Tengah.