Kemarau Belum Usai, Petani Baamang Hulu Tetap Produktif di Lahan CSR
KOTAWARINGIN TIMUR – Kemarau panjang membuat sebagian lahan pertanian Kelompok Tani Mandiri Makmur di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur, terdampak kekeringan. Meski air terbatas, petani tetap mengelola lahan dan mencari alternatif agar aktivitas pertanian terus berjalan.
Kondisi tersebut diketahui saat Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Tengah melakukan monitoring pelaksanaan Cetak Sawah Rakyat (CSR) di lokasi tersebut, 10/9/2026. Kelompok Tani Mandiri Makmur mengelola sekitar 108 ha lahan, dengan 35 ha di antaranya masuk dalam program CSR.
Sebagian lahan CSR telah ditanami padi pada Juli 2026. Namun, pertanaman kini terdampak kekeringan karena kemarau panjang dan terbatasnya sumber air untuk pengairan. Kondisi ketersediaan air menjadi salah satu perhatian utama dalam monitoring untuk melihat perkembangan lahan sekaligus kebutuhan dukungan di lapangan.
Kelompok tani mengusulkan dukungan pompa air tanah dalam sebagai alternatif sumber pengairan. Usulan tersebut menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan dengan melihat ketersediaan sumber air serta karakteristik dan kondisi lahan di lokasi.
Di tengah keterbatasan air dan ancaman kebakaran di sejumlah wilayah, petani tidak membiarkan lahan berhenti dimanfaatkan. Perbaikan galangan sawah terus dilakukan, sementara lahan pekarangan dan galangan dimanfaatkan untuk menanam berbagai komoditas hortikultura, seperti buah-buahan dan sayuran.
Pemanfaatan tersebut menjadi strategi diversifikasi usaha tani. Saat kondisi belum memungkinkan untuk kembali menanam padi, lahan yang tersedia tetap menghasilkan komoditas lain sekaligus membuka sumber pendapatan alternatif bagi petani.
Untuk musim tanam berikutnya, kelompok tani berencana kembali menanam padi setelah hujan turun dan kondisi cuaca mulai mendukung, yang diperkirakan sekitar Oktober–November 2026. Sambil menunggu musim hujan, petani mempersiapkan lahan, memperbaiki galangan, dan menata areal sawah agar siap ditanami kembali.
Pendampingan lapangan juga dilakukan penyuluh pertanian bersama Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), terutama untuk membantu mengidentifikasi permasalahan dan menentukan penanganan sesuai kondisi pertanaman.
Bagi Kelompok Tani Mandiri Makmur, keberlanjutan pengelolaan lahan menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Dukungan sarana produksi, alat dan mesin pertanian, pengairan, serta sarana pendukung lainnya diharapkan dapat membantu petani kembali mengoptimalkan lahan CSR ketika kondisi memungkinkan.