Tiga Alat Swadaya Awali Langkah PM-AAS di Paku
BARITO TIMUR – Penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kecamatan Paku, Kabupaten Barito Timur, mulai memasuki tahap praktik di tingkat petani. Gerakan Tanam (Gertam) Bersama digelar di lahan Kelompok Tani Harapan Maju II, Desa Tampa (12/8/2026).
Penerapan teknologi tersebut mendapat dukungan langsung dari petani. Tiga unit alat tanam dibuat secara swadaya untuk mendukung pelaksanaan sistem tanam PM-AAS di lahan mereka.
Kegiatan tanam bersama diikuti Tim Pendampingan BRMP Kalimantan Tengah, Katimker dan Tim Kerja Kabupaten Barito Timur, Koordinator Penyuluh (Korluh) BPP Paku, penyuluh pertanian, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), serta petani pelaksana.
Lahan yang menjadi lokasi Gertam merupakan sawah irigasi yang memperoleh pasokan air dari Bendungan Tampa. Meski memasuki musim kemarau, ketersediaan air di kawasan tersebut masih relatif aman sehingga mendukung pelaksanaan tanam dan pemeliharaan pertanaman.
Kondisi lahan juga telah dinyatakan siap untuk ditanami. Dukungan petani tidak berhenti pada kesiapan lahan. Inisiatif membuat alat tanam secara mandiri menjadi salah satu bentuk keseriusan petani dalam mencoba teknologi yang diperkenalkan melalui PM-AAS.
Pada kegiatan tersebut, petani menanam varietas Inpari 32 dengan menerapkan prinsip PM-AAS, termasuk penggunaan benih sesuai rekomendasi dan pengaturan tanam untuk memperoleh populasi tanaman yang optimal.
Bagi petani, penerapan PM-AAS menjadi alternatif untuk meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus mendorong produktivitas padi. Pengalaman menggunakan teknologi tanam sebelumnya juga menjadi modal penting dalam menerima pendekatan budidaya yang lebih modern.
Gerakan tanam ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pertanaman di Kelompok Tani Harapan Maju II diarahkan menjadi lokasi pembelajaran dan percontohan bagi petani lainnya di Kecamatan Paku, sehingga penerapan teknologi PM-AAS dapat dilihat dan dipelajari langsung dari kondisi lahan setempat.
BRMP Kalimantan Tengah bersama penyuluh, POPT, dan pemangku kepentingan terkait akan melanjutkan pendampingan sejak fase awal pertanaman hingga pemeliharaan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dan panen.
Dengan dukungan petani serta kondisi lahan dan sumber air yang mendukung, penerapan PM-AAS di Paku diharapkan dapat menjadi salah satu contoh bahwa modernisasi pertanian tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Inisiatif petani, penyesuaian dengan kondisi setempat, dan pendampingan yang konsisten justru menjadi bagian penting dalam membawa teknologi ke lahan.