Rakor Penyuluh Kapuas Soroti Tata Air, Mekanisasi hingga Regenerasi Petani
KAPUAS – Persoalan tata air, mekanisasi, hingga regenerasi petani menjadi pembahasan dalam Rapat Koordinasi Penyuluh Pertanian Kabupaten Kapuas di Desa Sidomulyo, Kecamatan Tamban Catur (7/9/2026). Rakor yang dipimpin Koordinator BPP Tamban Catur, Nur Rohim, diikuti koordinator penyuluh, penyuluh, Brigade Pangan, mantri tani, dan POPT se-Kabupaten Kapuas.
Nur Rohim menyoroti tantangan pertanian Kapuas yang berbeda pada musim hujan dan kemarau. Saat hujan, sejumlah lahan menghadapi genangan, sedangkan pada musim kemarau kekeringan menjadi persoalan. Kondisi tata air tersebut perlu menjadi perhatian dalam penerapan teknologi dan pengembangan pertanian modern.
Dalam diskusi, permasalahan juga muncul dari lahan yang belum rata. Perwakilan Tamban Luar dan Terusan menyampaikan bahwa sekitar 500 ha lahan masih menghadapi persoalan tersebut sehingga menyulitkan pemeliharaan. Biaya sewa alat berat seperti ekskavator juga menjadi tantangan untuk melakukan perataan lahan.
Sementara itu, perwakilan Kapuas Timur menyampaikan persoalan tata air yang perlu diperbaiki terlebih dahulu. Di wilayah tersebut terdapat tujuh desa dengan kondisi tata air yang dinilai masih buruk, dengan kondisi lahan terlalu basah saat hujan dan kekurangan air ketika kemarau.
Rakor juga membahas penerapan mekanisasi dan teknologi pertanian. Nur Rohim menyampaikan bahwa penggunaan alat tanam dan drone mulai diterapkan di sejumlah wilayah, namun ketersediaan alat masih menjadi tantangan. Beberapa petani bahkan telah menunjukkan hasil baik setelah mengadopsi teknologi modern.
Persoalan regenerasi petani turut mendapat perhatian. Angga, PJ Swasembada Pangan Kabupaten Kapuas dari SMK-PP, mengajak lebih banyak anak muda terjun ke sektor pertanian sekaligus mendorong petani yang memiliki motivasi untuk berkembang tanpa selalu bergantung pada bantuan pemerintah. Menurutnya, pengalaman daerah lain menunjukkan petani milenial dapat berkembang ketika mendapat pendampingan dan akses teknologi yang tepat.
Asisten III Kabupaten Kapuas, Perry Noah, juga menyampaikan rencana untuk mendorong terbentuknya wadah bagi petani milenial. Kedekatan generasi muda dengan teknologi dinilai dapat menjadi modal untuk mempercepat penerapan pertanian modern.
Dari sisi dukungan teknologi, Direktur Wilayah mengingatkan agar penyuluh segera mengusulkan kebutuhan melalui SIPURI sebelum periode pengusulan ditutup. Selain PM-AAS, dukungan PM Drone dan pengembangan traktor juga terus disiapkan. Ia juga menyampaikan upaya agar setiap PPL dapat memperoleh satu unit drumseeder.
Penyuluh juga diminta mendata petani yang belum menerima bantuan dan memastikan petani yang telah mendapat dukungan mampu meningkatkan produksinya. Dengan demikian, bantuan dan teknologi tidak berhenti pada penyaluran, tetapi benar-benar terlihat hasilnya di tingkat petani.