Kekeringan Hambat Pertanaman di Lokasi OPLAH Kobar, JIAT Jadi Andalan
KOTAWARINGIN BARAT – Kekeringan menjadi tantangan utama saat Tim BRMP Kalimantan Tengah bersama penyuluh pendamping meninjau kesiapan lahan dan sumber air pertanaman padi di lokasi Optimalisasi Lahan (OPLAH) tahun 2024 dan 2025 di Desa Berambai Makmur, Kabupaten Kotawaringin Barat, (1/9/26).
Hasil peninjauan menunjukkan embung dalam kondisi kering, sementara permukaan air berada di bawah pintu air. Jaringan irigasi sekunder dan tersier juga terpantau sangat kering sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan air untuk pertanaman padi.
Di lokasi tersedia Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dengan 24 keran. Namun, saat ini hanya empat keran yang dapat dibuka dan menghasilkan debit air yang cukup untuk mengairi kebun hortikultura. Debit yang tersedia belum mampu mengairi sawah secara optimal dan baru sebatas membasahi lahan.
Sambil menunggu ketersediaan air untuk padi, sebagian lahan sawah dimanfaatkan untuk budidaya hortikultura dengan memanfaatkan air JIAT yang masih tersedia. Jika kebutuhan air untuk pertanaman padi meningkat, pengairan dapat didukung menggunakan mesin pompa dari sumber air yang masih tersedia.
Selain mengecek kondisi lahan dan sumber air, tim juga memeriksa benih yang telah disalurkan untuk luasan 44 ha. Pemeriksaan meliputi masa edar dan kondisi fisik benih untuk memastikan benih masih layak digunakan serta tidak mengalami kerusakan atau serangan kutu selama penyimpanan.
Pertanaman di lokasi ditargetkan mulai akhir September 2026. Namun, jika hujan belum turun dan ketersediaan air belum mencukupi, jadwal tanam berpotensi mundur.
Kondisi tersebut menjadi bahan koordinasi lebih lanjut untuk menentukan langkah pemenuhan air, optimalisasi JIAT, dukungan pompa, serta memastikan benih siap digunakan saat kondisi lahan memungkinkan untuk ditanami.